PLN Peduli Bareng Salarea Foundation Merintis Ekowisata Kopi Cibatu

Cibatu memiliki komoditas kopi Dukuh, Gunung Sadakeling, yang sudah ditanam masyarakat dan menjadi salah satu sumber pendapatan. Lahan di wilayah Cibatu cocok untuk tanaman kopi dan masih tersedia lahan luas.

Seperti diketahui, Indonesia memiliki banyak dataran tinggi karena berada di kawasan “ring of fire” gunung berapi. Salah satu keuntungannya ialah kontur tanah dan hawa di dataran tinggi sangat baik untuk kesuburan tanaman kopi. Tak heran, Indonesia menjadi negara produsen kopi yang digemari hingga ke mancanegara.  Dari sekian banyak komoditas pertanian dan perkebunan di Cibatu, Garut, Jawa  Barat, kopi memiliki potensi ekonomi yang cukup besar.

Cibatu memiliki komoditas kopi Dukuh, Gunung Sadakeling, yang  sudah ditanam masyarakat dan menjadi salah  satu sumber pendapatan. Lahan di wilayah Cibatu cocok untuk tanaman kopi dan masih tersedia lahan  luas. Pengembangan komoditas kopi bisa menyerap tenaga kerja yang cukup banyak, sehingga  pengangguran yang meningkat akibat Covid-19  bisa ditekan. Di sisi lain, tren produk kopi yang tengah naik  daun  dengan menjamurnya kedai-kedai kopi, meski  sempat tertekan selama pandemi corona. Alhasil, peluang usaha pengembangan kopi terbuka  dari hulu sampai hilir.

Di wilayah Cibatu terdapat sekitar 200 hektare (ha) lahan kosong  yang belum termanfaatkan untuk pengembangan komoditas  pangan. Lahan tersebut berada di area hutan rakyat yang dikelola  oleh Perhutani. Baru sebagian lahan hutan rakyat yang telah dimanfaatkan oleh  masyarakat lewat program perhutanaan sosial. Selain kopi, petani  menanam sejumlah komoditas pangan seperti jagung, bawang  merah, kacang, cabai, dan lainnya.

Pada umumnya, para petani menanam kopi masih dilakukan secara  tradisional. Jenis kopi yang ditanam juga beragam karena hanya  memanfaatkan yang tersedia di alam. Akibatnya, produktivitas  panen kopi masih rendah. Kebutuhan bibit kopi dan tanaman lainnya cukup tinggi mengingat  area lahan yang masih cukup luas untuk dimanfaatkan bagi  aktivitas ekonomi pertanian dan perkebunan. Hanya saja, belum  ada fasilitas atau rumah semai yang bisa mengontrol kualiatas bibit  yang akan di tanam. Sehingga, bibit masih harus didatangkan dari  daerah luar. Selain itu pengolahan kopi pasca panen juga masih manual, sehingga diperlukan mesin pengolah.

Di sisi lain, di panomara di Kawasan Gunung Sadakeling ini cukup menarik, ada sejumlah destinasi objek wisata dari mulai hutan pinus, jalur pendakian dan trek motor kros, hingga ojek wisata Silayung Park, yang tengah dikembangkan sebagai keunggulan desa wisata. Atas dasar itu, Yayasan Kelompok Kerja Salarea (Salarea Foundation) lewat divisi sosial entrepreneur yakni Pawon Kopi Salarea menginisiasi pengembangan Ekowisata Kopi Cibatu, yang merupakan integrasi dari aspek ekonomi komoditas kopi dengan dengan potensi objek wisata yang ada di wilayah Cibatu dan sekitarnya.

Untuk merealisasikan rencana tersebut, Salarea Foundation bermitra dengan PLN Peduli, yang merupakan program Corporate Social Responsibilty (CSR) dan Program Kemitraan Bina Lingkungan (PKBL) sebagai bentuk komitmen tanggung jawab sosial dan lingkungan. Tentunya dengan menerapkan prinsip Good Corporate Governance (GCG) yang merupakan peran PLN sebagai pendorong kegiatan, pertumbuhan, pemberdayaan ekonomi masyarakat yang berbasis ISO 26000.  Implementasi ISO 26000 ini dilakukan dengan mengintegrasikan program CSR PLN dengan kriteria ISO 26000. Di antaranya tata kelola perusahaan, HAM, lingkungan dan K3, aktivitas operasi yang adil dan berintegritas, isu konsumen, aktivitas tenaga kerja, dan kontribusi pada komunitas dan masyarakat agar programnya bersifat berkelanjutan.

Program CSR dan PKBL bernama PLN Peduli itu melingkupi kegiatan CSR, program kemitraan (PK), dan Bina Lingkungan (BL). PK merupakan program pinjaman lunak untuk meningkatkan kemampuan usaha kecil agar menjadi lebih tangguh dan mandiri. Sedangkan BL merupakan program bina lingkungan untuk meningkatkan perekonomian, kesejahteraan, sosial pendidikan masyarakat yang berwawasan lingkungan.

Kopi juga menjadi pintu bagi PT PLN (Persero) untuk mengupayakan pengembangan masyarakat dengan program CSR lewat PLN Peduli. Sebut saja, PLN lewat anak usahanya Indoesia Power, menjalankan Program Indonesia Power Kamojang POMU dalam budidaya kopi arabika di Kampung Pelag, Desa Sukarilah, Kecamatan Sukaresmi, Garut, sejak tahun 2011 hingga sekarang. Kampung Pelag Mandiri dikembangkan melalui program CSR yang terencana dan berkesinambungan.

Kemudian, PLN Unit Induk Pembangunan (UIP) Sulawesi Bagian Utara (Sulbagut), memberikan bantuan fasilitas pembangunan tempat usaha, mesin produksi dan perizinan. Selanjutnya, PT PLN (Persero) Wilayah Sumatera Utara memberikan bantuan peralatan pertanian kepada Kelompok Tani Olam Klasik Kopi Lintong di Desa Sigumpar, Kecamatan Lintongnihuta, Kabupaten Humbang Hasundutan (Humbahas).  Adapun, PT PLN (Persero) Wilayah Sumatera Utara memberikan bantuan peralatan pertanian kepada Kelompok Tani Olam Klasik Kopi Lintong di Desa Sigumpar, Kecamatan Lintongnihuta, Kabupaten Humbang Hasundutan (Humbahas).aik untuk kesuburan tanaman kopi. Tak heran, Indonesia menjadi negara produsen kopi yang digemari hingga ke mancanegara. 

Pendiri Salarea Foundation, Dadan M Ramdan mengatakan, sangat mengapresiasi kemitraan dengan PLN Peduli, yang memang sudah banyak melakukan berbagai upaya fasilitasi dan pengembangan di masyarakat, terlebih pasca pandemi Covid-19. Kehadiran BUMN PLN sangat dibutuhkan masyarakat, terutama di pinggiran untuk bisa segera bangkit dan pulih  dari efek Covid-19," sebutnya.

Sejatinya, dalam program pengembangan Kopi Gunung Sadakeling dilakukan dari hulu ke hilir pada aspek pengembangan komoditas kopi dan petani, serta potensi ekowisatanya secara berkelanjutan. "Rencana pengembangan komoditas kopi dan petani di sisi hulu mencakup rintisan rumah semai (pusat pembibitan kopi), penanaman dan pembangunan demplot kopi (percontohan) di arae kebon kopi rakyat Gunung Sadakeling, pengadaan fasilitas pengolahan kopi pasca panen, dan berbagai pelatilahan untuk peningkatan kapasitas petani kopi," teragnya.

Menurut Dadan, bersama PLN Peduli Salarea Foundation memperkuat sisi hilir usaha kopi dengan rintisan usaha kedai kopi (ritel), rintisan rumah kopi sebagai pusat pengembangan dan pelatihan SDM bidang perkopian.  Adapun untuk mendukung pengembangan infrastruktur ekowisata Kopi Cibatu, dibangun aset pendukungnya dari mulai website ekowisata kopi Cibatu, pembangunan homes stay bagi wisatawan, pembangunan area camping ground dan gazebo. 

"Pengembangan Ekowisata Kopi Cibatu ini dilakukan secara bertahap dalam waktu tiga sampai lima tahun ke depan. Harapan kami, ini bisa terwujud dengan kemitraan bareng PLN Peduli secara keberlanjutan," harap Dadan, yang juga Owner Pawon Kopi Salarea.

Editor: Admin

Berita SebelumnyaMenonton Lais, Akrobat Tradisional Garut yang Menegangkan
Berita SelanjutnyaBLK Komunitas Kemenaker Gelar Business Meeting 2024