Curug Kancil Merana, Hanya Menyisakan Tetesan Air

Curug Kancil adalah air terjun yang berada Desa Padasuka, Kecamatan Cibatu ini termasuk salah satu curug tinggi di Garut. Curug dengan ketinggian 20 meter ini terletak di kaki Gunung Kancil.

Selepas truk penganggkut parkir di ujung kampung, puluhan pelajar SMA PGRI bergegas turun. Sejenak berkumpul, mereka lantas meneruskan perjalanan. Mengenakan seragam Pramuka lengkap dengan atributnya, tampak beriringan menyusuri jalan perkampungan. 

Selepas itu, melintasi pematang persawahan yang masih mengering lantaran hujan belum kunjung turun deras. Ya, palingan sekali-kali, itupun hujan gerimis. Dengan penuh hati-hati, mereka menuruni jalan setapak berbatu. Sebagian jalan yang dilalui masih berupa tanah. Sekitar 15 menit perjalanan yang cukup menguras tenaga, lokasi yang dituju nampak di depan mata.

"Ah, curugna saat eweuh caina. Balik deui weh (ah, air terjunnya kering, engak ada airnya. Pulang lagi aja)," celetuk seorang pelajar pria dengan kerut wajah kecewa. 

Anggota Pramuka yang mengikuti kelas barista muda di program Salarea Mengajar ini awalnya berharap bisa menceburkan diri ke air terjun di Curug Kancil. Sebelumnya, 30 pelajar SMA PGRI mengikuti kegiatan Edutrip Kopi Cibatu dengan mengunjungi Demplot Kopi Jamkrindo di Bungarungkup, Desa Girimukti, Kecamatan Cibatu, Kabupaten Garut, Sabtu (16/12/2023).

Selain bisa beriteraksi langsung dengan para petani kopi, mereka juga mendapat pemaparan tentang lingkungan dan kehutanan dari Asisten Perhutani (Asper) Cibatu dan materi kesehatan mental yang disampaikan Tim Bimbingan dan Konseling Sekolah Tinggi Farmasi Indonesia (STFI).   

Sejatinya, kondisi Curug Kancil saat ini sangat memprihatinkan. Tampak tidak terurus, beberapa fasilitas seperti saung, tempat ganti pakaian, bangku-bangku tampak lapuk. Yang tak kalah merana, kondisi curugnya. Hanya tetesan air membasahi tebing curug. Onggokan endapan lumpur bercampur sampah diantara batu-batu besar, tepat di area bawah curug.  

Selain efek kemarau ekstrem akibat fenomena El Nino, keberdaan objek wisata alam ini karena pandemi Covid-19. Tak pelak, curug tidak terurus. Rencana pengembangan destinasi wisata ini pun terhenti hingga sekarang.    

Untuk diketahui, Curug Kancil adalah air terjun yang berada Desa Padasuka, Kecamatan Cibatu ini termasuk salah satu curug tinggi di Garut. Curug dengan ketinggian 20 meter ini terletak di kaki Gunung Kancil. Alhasil, air terjun ini dinamai Curug Kancil. Air yang mengalir di Curug Kancil ini berasal dari lembah Gunung Kancil yang memiliki debit air yang besar.

Lantaran, memiliki debit air yang besar, Curug Kancil ini juga dimanfaatkan warga untuk memenuhi kebutuhan mereka seperti mengairi sawah dan ladang. Curug Kancil ini memiliki pemandangan yang sangat indah, air mengalir dari tebing yang sangat tinggi ini menciptakan pemandangan yang megah. Aliran  air yang jatuh menimpa bebatuan menyebabkan sensai sejuk dan dingin.

Tak ayal, pemandangan di sekitar Curug Kancil ini bagaikan di hutan tropis, di kelilingi oleh pohon tinggi dan rimbun sehingga teduh dan segar. Selain itu, terdapat tebing tinggi penompang air terjun yang megah. Terdapat sebuah legenda yang dipercayai oleh warga sekitar di mana di curug tersebut terdapat sebuah kerajaan jin yang dipimpin oleh Kanjeng Ratu Sri.

Kerajaan ini dijaga oleh ular besar dan konon katanya Kanjeng Ratu Sri tidak menyukai warna merah. Sehingga, hal ini berkaitan dengan mitos untuk tidak mengenakan baju merah ke Curug Kancil karena warna merah tidak disukai oleh Kanjeng Ratu Sri. Jika ada pengunjung yang menggunakan baju merah maka akan dibawa ke kerajaan untuk kemudian dijadikan sebagai budak. 

Kerusakan Lingkungan

Fakta terkini soal Curug Kancil cukup mengusik Ketua Yayasan Kelompok Kerja Salarea (Salarea Foundation) Dadan M Ramdan. "Awalnya, kami mengadakan kegiatan Edutrip Kopi Cibatu. Dari agenda itu akan mampir ke Gawir Payanwangan, tapi karena nyasar malah nyampenya ke Curug Kancil. Ya, lanjut saja dan berharap menemukan kesegaran air terjun di tengah terik panas kemarau yang belum berlalu," tuturnya.

Namun, apa boleh di kata. Sesampainya di Curug Kancil, bukan pemandangan sejuk seperti yang terbesit di kepala. Tapi kondisi anomali yang dijumpai. "Terakhir mengunjungi Curug Kancil pas saya masih sekolah di kelas tiga SMP Negeri Cibatu. Waktu itu, airnya sangat besar dan deras. Makanya, Curug Kancil jadi alternatif destinasi wisata bagi anak muda dan warga di Cibatu untuk menikmati keindahan alam dan kesejukan air terjun," cerita Dadan, yang juga Owner Pawon Kopi Salarea.

Meski lama tinggal di Jakarta sampai sekarang, pria berambut gondrong ini banyak melakukan kegiatan sosial, lingkungan dan pemberdayaan petani kopi serta UMKM. Sehingga, fakta mengenai kerusakan alam yang terjadi di wilayah hutan dan pengunungan sekitar Cibatu cukup membuat gusar. "Saya lahir dan dibesarkan di Cibatu, sedih juga lihat kondisi hutan Cibatu sekarang. Makanya, kita di Komunitas Salarea terus kampanye lingkungan, tanam pohon dan tanam kopi. Mudah-mudahan yang lain juga banyak mengikuti," harap alumnus SMAN 3 Cibatu ini.

Menurut Dadan, apa yang terjadi di Curug Kancil adalah sebuah peringatan bagi kita semua. Akumulasi akibat perunbahan daya dukung lingkungan. Wilayah Cibatu selalu menjadi langgaran krisis air yang nyaris saban tahun. Bahkan di musim kemarau tahun ini, sebagain lahan hutan di Cibatu terbakar. Kebaran lahan hutan tentu akan berdampak pada keseimbangan alam. 

"Dari pengamatan, terjadi kerusahan di sepanjang aliran sungai dan hulu Curug Kancil akibat jumlah pohon berkurang drastis, banyak ditanam pohon produktif untuk ditebang-diambil kayunya, misal pohon alba, jengjeng dan sebagainya, otomatis cadangan air berkurang," bebernya. 

Mirisanya, lahan kosong yang terbengkalai terus bertambah luas areanya. Di titik ini jumlah pohon tegakan semakin berkurang. Artinya butuh rehabilitasi di daerah hulu dengan penanaman pohon penghijauan bukan pohon produksi kayu. Lahan yang terbakar juga perlu dipulihkan lagi, biar tak menambah luas lahan kritis. 

Jika tidak ada upaya pengembalian fungsi hutan di sekitar Cibatu, maka ancaman krisis air di musim kemarau bakal meningkat keparahannya. Di sisi lain, potensi longsor dan banjir juga meningkat di musim hujan akibat kerusakan daya dukung lingkungan tersebut. 

"Jadi, hilangnya debit air di Curug Kancil itu semacam pertanda adanya kerusakan keseimbangan alam yang patut diwaspadai. Kita berharap para pemanku kepentingan di Cibatu untuk lebih peka lagi terhadap fenomena alam. Alih fungsi lahan harus distop," tandas Dadan yang juga berprofesi sebagai jurnalis.

Ekspansi Tak Bertangung Jawab 

Masifnya alih fungsi lahan di hutan sekitar Cibatu juga mengusik Letkol Inf Hamzah Budi Susanto, S.E., Dandim 0624/Kabupaten Bandung. Sebelumnya, Hamzah pernah menjabat sebagai Kasdim 0611 Kabupaten Garut. Ia juga merupakan alumni SMAN 3 Garut.     

"Banyak alih fungsi lahan. Awalnya, banyak tanaman konservasi sekarang sebagian hutan kita sudah semakin gundul bersamaan dengan alih kepemilikan ke para taipan yang enggak terlalu peduli tentang ketersediaan air di sana," sebutnya yang masih tinggal di Cikarees, Padasuka.

Untuk kasus Curug Kancil, Hamzah bilang,  memang selama ini masyarakat mengambil air di hulunya, atau bukan area bawah curug. Selama itu terjadi, ya lama-lama debit air berkurang terlebih masif alih fungsi lahan di kawasan hulunnya. "Air pasti tidak akan menetes ke curug. Harus ada langkah awal untuk kita menanam kembali pohon-pohon konservasi di hulu Curug Kancil," ajaknya.

Yang pasti, Hamzah menekankan, gerakan menanam poohon di hulu Curug Kancil kayaknya memang harus segera dilakukan untuk mencegah dampak yang lebih serius di kemudian hari.  "Soalnya, berkurangnya pohon ngaruh banget sama debit air. Saya berusaha membeli lahan sediki-sedikit yang dijual warga sesuai kemampuan finansial, terutama lahan-lahan di hutan Cikarees. "Tujuannya untuk memagari supaya orang luar yang tidak bertanggung tidak bisa beli lahan di situ," tegas.

Sejatinya, Hamzah lahir dan besar di Cikarees. Jadi, cukup prihatin juga melihat kondisi kerusakan lingkungan tersebut. 

"Saya sebagai penghuni asli hutan Cikarees punya beban moril untuk menjaga Cikarees. Apalagi, kawasan hutan di Gunung Kancil hingga Panyosogan sudah habis. Minimal kalau ada yang mau beli lahan hutan di Cikarees, saya bisa mempertahankan tanah saya untuk tidak dijual. Mereka biasanya kalau menguasai hutan sistem blok satu gunung. Jadi, walaupun tanah saya engga luas-luas amat, bisa menjegal mereka ekspansi lahan yang tak bertanggung jawab," papar Hamzah.

Ketua Majelis Ulama Indonesia (MUI) Kecamatan Cibatu KH Asep Yani Jaelani juga angkat bicara soal maraknya penjualan lahan  di Cibatu ke pihak pengusaha luar. "Saya banyar dengar hal ini, jujur saja sangat khawatir ini lahan di Cibatu mau diapakan. Kalau hanya dibiarkan, atau dijadikan kegiatan ekonomi tapi tak mengindahkan vegetasi alam, yang dirugikan tentu masyarakat sekitar," jelas Pimpinan Pesantren Nurul Qodir Cibatu ini mengingatkan.

KH Asep pun mengimbau warga Cibatu untuk tidak mudah menjual lahan ke pihak luar, karena jika tidak jelas untuk apa peruntukannya malah merugikan masyarakat sekitar. Masyarakat tak bisa mengolah lahan tersebut karena pemiliknya orang luar. 

Editor: Admin

Berita SebelumnyaCara Salarea dan Jamkrindo Mengenalkan Lingkungan dan…
Berita SelanjutnyaBLK Komunitas Kemenaker Gelar Business Meeting 2024