Garut Siap Pasok 10 Juta Bibit Kopi untuk Disebar ke Seluruh Indonesia

Pada tahun 2022, target produksi benih kopi Jawa Barat termasuk dari Garut mencapai 3 juta batang. Produksi kopi Jawa Barat terus berkembang pesat, di mana pada Januari-Maret 2022 total penanaman mencapai 499 ribu batang

Kementerian Pertanian (Kementan) RI mendorong pengembangan kopi agar Indonesia menjadi negara nomor satu penghasil kopi dunia. Jawa Barat termasuk Garut merupakan salah satu penghasil benih kopi nasional dengan jumlah cukup besar.  Hal itu diungkapkan Menteri Pertanian (Mentan) Syahrul Yasin Limpo (SYL) saat meninjau nursey (tempat pembibitan) benih kopi di Desa Cikandang, Kecamatan Cikajang, Kabupaten, Minggu, 28 Agustus 2022. 

Menurutnya, Garut merupakan daerah penghasil benih kopi dengan kualitas sangat baik. Oleh karenanya ia meminta Garut untuk menyiapkan 10 juta bibit kopi untuk disebar di seluruh Indonesia.  "Lima bulan ke depan, saya minta Garut untuk menyiapkan 10 juta bibit kopi. Bibit kopi dari Garut ini akan kami sebarkan untuk ditanam di seluruh Indonesia," ujar YSL langsung di hadapan Bupati Garut, Rudy Gunawan. 

Dikatakannya, pada tahun 2022, target produksi benih kopi Jawa Barat termasuk dari Garut mencapai 3 juta batang. Produksi kopi Jawa Barat terus berkembang pesat, di mana pada Januari-Maret 2022 total penanaman mencapai 499 ribu batang. Kemudian, tuturnya, bertambah lagi pada April-Junuari 2022 sebanyak 1,01 juta batang, Juli-September 300.000 batang dan pada Oktober-Desember mencapai 900.000 batang. Dengan capaian tersebut, selama ini Jabar masuk sepuluh besar kawasan pengembangan Kopi di Indonesia. 

Disampaikannya, secara nasional luas areal kopi nasional pada tahun 2021 mencapai 1,26 juta hektare yang terdiri dari luas kopi perkebunan rakyat (PR) seluas 1,23 juta hektare atau 98 persen dan perkebunan besar (PB) seluas 0,03 juta hektare atau 2 persen.  Inovasi bibit kopi harus dapat dikembangkan di berbagai daerah sehingga Indonesia yang saat ini menduduki posisi ketiga produksi kopi internasional dapat dengan cepat menduduki posisi pertama ke depannya.

Makanya pengembangan kopi melalui produksi benih kopi harus diwujudkan sekaligus untuk memenangkan tantangan krisis pangan dan energi di masa depan. Ekspor kopi pun ditingkatkan dan kopi kita jadi nomor satu di dunia," katanya. YSL menjelaskan, berdasarkan status keadaan tanaman, luas kopi nasional terdiri dari Tanaman Belum Menghasilkan (TBM) seluas 188,91 ribu hektar dan TM (Tanaman Menghasilkan) seluas 947,92 ribu hektar. Adapun luas areal Tanaman Tidak Menghasilkan atau Tanaman rusak (TTM/TR) mencapai 122,16 ribu hektar.

Direktur Jenderal Perkebunan Kementan, Andi Nur Alam Syah menambahkan saat ini produksi kopi nasional mencapai 774,70 ribu ton yang terdiri dari produksi kopi Perkebunan Rakyat (PR) sebesar 769 ribu ton atau 99,33 persen dan produksi kopi Perkebunan Besar (PB) sebesar 5,67ribu ton atau 0,67 persen. Semua kopi tersebut tersebar hampir di seluruh provinsi di Indonesia dengan produktivitas 817 kg/ha.

Ia menyebutkan, produksi kopi yang dihasilkan sebagian besar diekspor dengan volume ekspor tahun 2021 sebesar 382,93 ribu ton dan memberikan kontribusi devisa senilai Rp12,35 triliun. Dengan angka tersebut, kopi menjadi penghasil devisa sektor perkebunan terbesar kelima setelah kelapa sawit, karet, kakao dan kelapa. Masih menurut Andi, perolehan devisa yang ada saat ini belum mencerminkan kontribusi nilai optimal. 

Hal ini dikarenakan sebanyak 98,01 persen kopi yang diekspor masih dalam bentuk produk primer atau kopi biji dengan kualitas ekspor didominasi 70 persen oleh mutu sedang sampai rendah grade IV hingga VI.  Namun demikian, Kementan sejak tahun 2020 mulai menggencarkan kegiatan BUN500 yakni penyediaan benih uggul bermutu tanaman perkebunan 500 juta batang, ucap Andi. 

Sementara itu Kepala Dinas Pertanian Garut, Beni Yoga, menyampaikan apresiasi untuk Mentan SYL yang berkomitmen untuk membagikan pusat pembenihan bibit kopi di Kabupaten Garut.

Mentan bahkan menargetkan Garut dalam 5 bulan ke depan bisa menyiapkan 10 juta bibit kopi untuk disebar ke seluruh Indonesia. Menyikapi target yang diberikan SYL itu, Beni mengaku pihaknya siap menyiapkan 10 juta bibit kopi dalam kurun waktu 5 bulan. Saat ini di Kabupaten Garut sudah memiliki petani penangkar sehingga penyediaan bibit tidak akan sulit. 

Diungkapkan Beni, selama ini pihaknya baru bisa menyuplai 2 juta bibit kopi per tahun. Namun karena saat ini tempat pembibitan telah berkembang, maka sekarang akan dijadikan pusat pembibitan bahkan untuk menyuplai ke wilayah lain di Indonesia seperti keinginan SYL. "Pengembangan pembibitan kopi akan terus kita kembangkan di antaranya di wilayah Kecamatan Cisurupan, Cikajang, Bayongbong, dan Samarang," kata Beni. 

Lebih jauh Beni menambahkan, penyediaan lahan untuk tempat pembibitan kopi di Garut pun cenderung mudah. Hal ini dikarenakan untuk tempat pembibitan ini kebutuhan lahannya tak banyak.  Ia mencontohkan, untuk lahan sekitar 100 tumbak bisa muat sampai 900 pohon. Kalau untuk 10 juta bibit, berarti hanya dibutuhkan sekitar 4-5 hektare lahan dan itu masih banyak tersedia di Garut.

Sumber: Antara

Editor: Admin

Berita SebelumnyaWarung Ngopi PWI by PLN Peduli Usung…
Berita SelanjutnyaBLK Komunitas Kemenaker Gelar Business Meeting 2024