Kopi Cibatu Hadir di Pasar Kopi Amsterdam

Kopi Cibatu menjadi bagian dari 97 jenis kopi asli Indonesia dipamerkan di Pameran Pasar Kopi di Eropa yang berlansung sejak 1 September hingga 11 September 2022. Kopi-kopi tersebut, berasal dari 11 daerah, yakni Ijen, Gayo, Mandailing, Karo, Lampung, Kerinci, Garut, Bandung, Dieng, Bali Kintamani, Flores, dan Toraja.

Produk kopi asal Indonesia terus merangksek ke pasar internasional. Terbaru, 97 jenis kopi asli Indonesia dipamerkan di Pameran Pasar Kopi di Eropa.Kopi-kopi terbaik dari Nusantara ini hadir Pasar Kopi Amsterdam, yang berlansung sejak 1 September hingga 11 September 2022. Menteri BUMN Erick Thohir membuka pameran yang digelar Roemah Indonesia BV dan Project Management Office (PMO) Kopi Nusantara, di Posthoornkerk, Amsterdam, Belanda, pada Sabtu (3/9/2022) lalu.

Agenda ini juga isi dengan paparan Amir Sidharta dan Bonnie Triyana, sebagai kurator dan desainer pameran sejarah kopi Indonesia pertama di dunia ini. Selain talk show bersama para tokoh kopi ternama dunia, para pecinta kopi juga dapat menyaksikan secara langsung sesi coffee cupping dan coffee pairing, serta menikmati kopi khas Indonesia pada area unlimited brewing session.

Adapun kopi Cibatu, Garut, menjadi bagian dari 97 jenis kopi asli Indonesia dipamerkan di Pameran Pasar Kopi di Eropa tersebut. "Alhamdulillah, Kopi Cibatu (Kopi Salarea), diberi kesempatan sama tim PMO Kopi Nusantara, Kementerian BUMN ikut ajang Pameran Pasar Kopi di Eropa. Kehadiran kopi Cibatu ini juga tak luput dari fasilitasi PT Jaminan Kredit Indonesia (Jamkrindo) yang menjadi mitra kami dalam pemberdayaan petani kopi di Cibatu," terang Dadan M Ramdan, Pendiri Yayasan Kelompok Kerja Salarea (Salarea Foundation).

Menurut Dadan, kehadiran kopi Cibatu di pameran tersebut penting untuk promosi sekaligus pemasaran kopi asal Garut. Di sisi lain, menjadi bentuk penghargaan bagi para petani kopi di Cibatu, yang selama ini telah merawat tanaman kopi dengan berbagai tantangan dan kendala yang dihadapi. "Harapan kami, kopi Cibatu bisa dikenal dan menjadi kebanggaan yang tidak hanya warga Cibatu, Garut, atau Jawa Barat, tapi Nusantara," sebut Owner Pawon Kopi Salarea ini.

Asal tahu saja, Pawon Kopi Salarea merupakan divisi sosial entrepreneur dari Salarea Foundation, yang fokus melakukan pendampingan dan pembinaan terhadap petani kopi di Cibatu dan sekitarnya, mulai dari hulu sampai hilir dengan mitra strategis salah satunya Jamkrindo dan Kementerian Ketenagaan Kerjaan, sejak tiga tahun lalu. Kini, Pawon Kopi Salarea bersama dengan PLN Peduli tengah merintis pengembangan ekowisata kopi Cibatu. Dadan bilang, kopi yang dikirim ke Pasar Kopi Amsterdam adalah kopi asli Cibatu dari perkebnunan kopi rakyat di Kampung Dukuh, Gunung Sadakeling, Desa Karyamukti. "Selain membawa contoh kopi berupa green beans dan roasted, kami juga memboyong sample gula aren semut dari perajin gula aren di Desa Padasuka," bebernya.

Sebelumnya, Menteri BUMN Erick Thohir mengatakan Pasar Kopi tersebut bertujuan mengangkat posisi Indonesia agar menjadi pemain penting dalam rantai suplai perdagangan kopi Indonesia di tingkat internasional. 

Dalam event itu, ucap Erick, Indonesia membawa sampel kopi sebanyak lebih dari setengah ton dengan 97 jenis kopi, mulai dari green bean hingga produk turunannya. Kopi-kopi tersebut, berasal dari 11 daerah, yakni Ijen, Gayo, Mandailing, Karo, Lampung, Kerinci, Java Preanger (area Garut dan Bandung), Dieng, Bali Kintamani, Flores, dan Toraja. "Agenda bertajuk Indonesian Coffee Market; Coffee Revolution ini sangat bagus karena membawa pengunjung mengenal lebih jauh tentang perjalanan kopi nasional. Sambil mencoba beragam kopi asli hasil perkebunan Indonesia, mereka juga akan disuguhkan pameran sejarah produksi kopi, serta berbagai jenis kopi dan produk turunannya," ujar Erick.

Erick menyampaikan BUMN mendukung penuh kebangkitan industri kopi nasional. Hal ini ia tunjukan pada pada awal 2022 dengan meluncurkan inisiatif Project Management Office (PMO) Kopi Nusantara.

Langkah tersebut dilakukan guna meningkatkan produktivitas kopi dalam negeri dengan skema program Makmur yang selama ini telah diterapkan di komoditas lain, seperti padi, tebu, dan jagung. Tujuan dari PMO Kopi Nusantara, kata Erick, adalah untuk memperbaiki ekosistem bisnis kopi dari hulu hingga hilir. "Inilah pentingnya kita harus percaya membangun ekosistem Indonesia di mana kita banyak sekali mempunyai keunggulan di berbagai macam jenis kopi," ucapnya.

Erick menyebut PMO Kopi Nusantara menjadi bagian dari program Makmur komoditas kopi yang memberikan akses untuk finansial, pendampingan, jaminan gagal panen dan pasar. "Kenapa BUMN terketuk, karena 96?ri industri kopi adalah perkebunan rakyat. Tujuan akhir kita adalah kesejahteraan para petani," ungkap Erick.

Dalam agenda tersebut, Erick juga menyaksikan tanda tangan kontrak pembelian kopi antara stakeholders yang tergabung di PMO Kopi Nusantara, termasuk PTPN Group, dengan para importir di wilayah Belanda dan sekitarnya. Erick menyebut nilai transaksi awal kerja sama tersebut mencapai USD 5,6 juta terdiri dari USD 2,5 juta kontrak pembelian dan sisanya sebesar USD 3,1 juta berupa nota kesepahaman. "Ini sejak awal saya meminta BUMN bangun ekosistem di mana kita tidak boleh menomorduakan petani," lanjut Erick.

Menurut Erik, Uni Eropa tercatat sebagai konsumen kopi dunia terbesar, yakni mencapai 2,4 juta ton per tahun, atau 24 persen dari total konsumsi kopi dunia. Itu juga yang menjadi salah satu alasan event Pasar Kopi dilaksanakan di Amsterdam.  Sejak dahulu, lanjutnya, Belanda adalah pasar potensial bagi komoditas kopi Indonesia. "Selain itu, rata-rata warga Belanda meminum empat cangkir kopi sehari. Hal ini menunjukkan potensi pasar yang besar bagi Kopi Indonesia di Belanda yang memiliki sejarah sejak zaman dahulu," ungkap Erick.

Editor: Admin

Berita SebelumnyaDestinasi Wisata Kuliner yang Lagi Hist di…
Berita SelanjutnyaPeringati Hari Gizi Nasional, Rumah Tangguh Stunting…