Dr. Yana Aditia Gerhana, ST., M.Kom

Bertani Bukan Sekadar Mengembangkan Potensi Ekonomi Tapi Ada Pembelajaran dan Pengabdian

Yana Aditia Gerhana/Doumen Pribadi
Bagi saya, bertani bukan hanya sekadar mengembangkan potensi ekonomi, tapi sarana pembelajaran dan pengabdian kepada masyarakat. Sebelum saya punya aktivitas rutin di kebun, saya terlibat di kegiatan sosial, pemberdayaan ekonomi masyarakat dengan menggagas pengembagan desa digital di kwasan Garut Utara, tepatnya di Kecamatan Cibatu.

Bertani salah satu profesi yang mulai ditingalkan karena dianggap tidak menguntungkan. Berbeda dengan sosok yang satu ini, walau sudah memiliki profesi yang cukup mapan dan mengenyam jenjang pendidikan tertinggi, beratani menjadi profesinya kedua yang tengah digelutinya. 

Adalah Dr. Yana Aditia Gerhana, ST., M.Kom, Dosen Tetap Teknik Informatika UIN Sunan Gunung Djati Bandung, yang memandang bertani memiliki prosfek ekonomi yang cukup menjanjikan. "Tapi memang tergantung dari komoditas apa dan cara bertani yang dilakukan," ujar Koordinator Laboratorium Jurusan Teknik Informatika UIN Sunan Gunung Djati Bandung ini, saat memulai obrolan santai bareng Tim Ekowisata Kopi Cibatu, pekan ini. 

Bersama warga sekitar hutan, Yana menekuni profesi sebagai petani kopi di Gunung Bungarungkup, yang masih satu kawasan dengan Pegunugan Sadakeling, Desa Karyamukti, Kecamatan Cibatu, Kabupaten Garut, Jawa Barat. Pegunungan Sadakeling selama ini dikenal sebagai sentra produksi kopi di Garut Utara, yang sudah ada sejak lama. Konon, kopi buhun yang ditanam Belanda di wilayah ini masih ada sisa-sisanya.

Selain menanam kopi, Pria kelahiran Garut 43 tahun lalu juga dikenal sebagai petani yang merintis penanaman alpukat di Bungarungkup. Dengan kesibukan sebagai dosen, ia terus berfokus pada pemanfaatan lahan untuk pertanian. Tujuannya, meningkatkan kesejahteraan masyarakat dari pemanfaatan komoditas pertanian. Lantas, apa yang melatari Yana tertarik ke dunia pertanian, berikut kutipan perbincangannnya:

Apa yang mendasari Anda tertarik menjadi petani, padahal beratni itu berat dan tidak mudah?

Bagi saya, bertani bukan sekadar mengembangkan potensi ekonomi, tapi sarana pembelajaran dan pengabdian kepada masyarakat. Sebelum saya punya aktivitas rutin di kebun, saya terlibat di kegiatan sosial, pemberdayaan ekonomi masyarakat dengan menggagas pengembagan desa digital di kwasan Garut Utara, tepatnya di Kecamatan Cibatu.

Tantangan bertani apa? Bagaimana membagi waktu antara menjadi dosen dan menjalani petani kopi/alpuket, apa yang diperoleh dengan bertani?

Tantangan terbesarnya adalah membagi waktu. Artinya, bagaimana saya bisa meningkatkan intensitas waktu untuk bertani di sela-sela kesibukan mengajar di kampus. Belum lagi kesibukan di luar kampus. Menurut saya, bertani bukan hanya sekadar mengisi waktu. Tapi memang memerlukan waktu lebih agar bertani menjadi efektif dan bisa menghasilkan sesuai yang diharapkan.

Apa memang Anda yakin dari usaha pertanin ini bisa menghasilkan nilai lebih secara ekonomi, padahal rata-rata penghasilan petani tidak menentu?

Saya yakin jika bertani dilakukan secara benar, paham akan selak-beluk dalam bercocok tanam ini, tentu kita bisa menangkap peluang ekonomi dari pertanian ini. Mungkin satu, dua tahun ini menanam kopi atau alpuket belum menghasilkan apa-apa, tapi itu bagian investasi ke depan, setelah yang kita tanam itu berproduksi atau menghasilkan panen.

Bagaimana Anda menangkap potret kehidupan petani stempat?

Cukup memprihatinakan, padahal potensi cukup besar. Butuh sentuhan teknik, tatakelola bertani, termasuk penyediaan pupuk, permodalan dan pemasaran. Yang terang, problem utama yang dihadapi petani pada umumnya adalah permodalan dan akses pemasaran, ditambah masalah klasik pupuk yang mahal dan sulit diperoleh. Terkadang, saat menjelang masa tanam, pupuk malah hilang dari pasaran. Toh, ada pun pupuk non-subsidi yang harganya memberatkan bagi petani yang memang kesulitan biaya produksi. Dengan demikian, pemerintah ingin meningkatkan tarap hidup petani, cara tak lain adalah mempermudah akses permodalan, membantu perluasan pasar dan menyediakan pupuk yang cukup dengan harga terjangkau bagi petani.

Sektor pertanian meski menjanjikan tapi dianggap tidak menarik bagi sebagian orang, terutama anak muda. Tapi, kini muncul yang namanya petani milenial. Apa pendapat Anda?

Bisa benar, bisa salah. Benar kalau hulu dan hilir tidak mendukung. Dalam persfektif saya, petani melenial adalah mereka yang mampu memanfaatkan teknologi untuk meningkatkan efektifitas dan efisiensi dalam proses bertani mulai dari persiapan penanaman, pelaksanaan dan pasca produksi atau panen. Dan hal yang terpenting di petani milenial adalah mereka yang punya akses terhadap permodalan. Kemunculannya sangat baik untuk meningkatkan roda ekonomi di bidang pertanian.

Menurut Anda, pendekatan apa yang bisa dijalankan oleh stakholder terkait agar petani kita bisa sejahtera?

Seperti yang sudah saya sebutkan tadi, upaya upaya peningaktan kapasitas petani ini sangat penting dan harus dilakukan secara sistematis dan berkelanjutan. Lakukan pembinaan yang berkesinambungan dan pemanfaatan teknologi dalam proses bertani, akses permodalan dan akses pasar dibuka selebar-lebarnya bagi petani.

Bagaimana dengan petani kopi?

Pada dasarnya sama. Persoalann yang dihadapi petani hampir sama di semua daerah, yakni masih rendahnya produktivitas. Celakanya, ongkos produksi yang masih mahal, sehingga tidak memberikan hasil panen yang optimal. Penyediaan bibit unggul, pupuk berkualitas, perwatan dan pemanfaatna teknologi tepat guna, itu yang harus digalakan.

Soal problem pupuk?

Petani kita memang sudah terbiasa dengan menggunakan pupuk pabrikan, karena aplikasinya yang mudah dan cepat. Namun, dengan kondisi pupuk pabrikan yang harganya fluktuatif, bahkan pasolan sering terganggu tentunya bisa berdampak serius pada jadwal tanam. Namun demikian, petani tidak perlu mati gaya, yakni dengan memanfaatkan  pupuk alternatif yang murah dan ramah lingkungan juga ramah kantong. Artinya, petani harus mulai mau memanfaatkan bahan organik sebagai pupuk alternatif. Memang, ini tak mudah karena harus mengubah kebiasaan dalam aplikasi pupuk.

Saat ini pemerintah terus menggaungkan wacana ketahanan pangan lantaran situasi sekarang dihadapkan pada ancaman krisis pangan global. Apa betul kita menghadapi acaman krisis pangan?

Betul sekali, hal tersebut dicirikan denga, hari ini kita dihadapkan ketidak pastian ekonomi, turunya daya beli masyarakat, naiknya beberapa komoditas pangan. Sehingga, membangun ketahanan pangan mandiri ini penting dipahami bersama.

Sejauh mana pentingnya membangun ketahanan pangan mandiri?

Krisis pangan global memang bukan isapan jempol belaka. Semua negara di dunia menghadapi acaman tersebut dan berusaha mengantisipasinya agar tidak berdampak secara nasional di negara masing masing. Pertambahan jumlah populasi penduduk, kerusakan lingkungan akibat eksploitasi alam yang berlebihan, efek idustrialissai yang ujungnya memici bencana alam. Belum lagi kemunculan pandemi seperi Covid-19, membuktikan adanya gangguan terhadap pasokan pangan global. Dari asumsi tersebut, krisis pangan adalah ancaman serius yang bisa terjadi kapan pun dan di negara manapun, termasuk negara kita. 

Selanjutnya, apa yang harus kita lakukan dalam menghadapi ancaman krosis pangan ini?

Opsinya tak ada lagi selain memperkuat ketahanan pangan masyarakat dengan bertani. Ya, bertani tidak harus dalam lahan yang luas. Bertani bisa memanfaatkan lahan terbatas, misalnya lahan kosong atau pekarangan rumah, dan hasilnya bisa digunakan untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari, seperti sayuran dan buah-buahan. Kegiatan tersebut merupakan wujud ketahanan pangan mandiri sekala mikro. Yang jadi penekannya adalah memannfaatkan sekecil apapun lahan yang ada untuk bertani, menanam komoditas yang dapat menunjang kebutuhan sehari-hari.

 

Profil Singkat

Nama                            : Dr. Yana Aditia Gerhana, ST., M.Kom.

Tempat, Tanggal Lahir     : Garut, 17 Nopember  1978

Alamat                           : Jl. Bratayuda Blk KPAD RT.002 RW.027 N0. 7 Garut

NIP                                : 197811172011011003

Kantor                            : Teknik Informatika UIN Sunan Gunung Djati Bandung, Jl. AH Nasution 105 Bandung

Riwayat Pendidikan

Jenjang Jurusan                                        Tahun

Strata 1 Teknik Informatika                        2003

Strata 2 Sistem Informasi                           2009

Strata 3 Pendidikan Teknologi & Kejuruan     2016

Riwayat Pekerjaan

1. 2004-2005. Dosen Jurusan Sistem Informasi Universitas Kuningan

2. 2006-2010. Staf Rektorat Universitas Garut

3. 2007-2010. Staf Pengajar Fakultas Ekonomi Universitas Garut

4. 2010-2017. Dosen Tidak Tetap Manajemen Sistem Informasi AMIK Garut

5. 2011- Sekarang. Dosen Tetap Teknik Informatika UIN Sunan Gunung Djati Bandung

Pengalaman Jabatan dalam Pengelolaan Institusi

1. 2016-2019. Sekretaris Jurusan Teknik Informatika UIN Sunan Gunung Djati Bandung

2. 2019- Sekarang. Koordinator Laboratorium Jurusan Teknik Informatika UIN Sunan Gunung Djati Bandung

3. 2017-Sekarang. Reviewer Jurnal dan Conference Nasional dan Internasional

Editor: Admin

Berita SebelumnyaDokter Mulia yang Hanya Dibayar dengan 10…
Berita SelanjutnyaLetkol Inf Hamzah Beri Bonus Juara Cibatu…