Desa Wisata Mulakeudeu

Dari Hajatan Lembur, Kampung Dongeng yang Kaya Budaya dan Sejarah

Keberadaan cagar budaya Kubah Masjid dan Taman Al-Qur'an, tidak lepas dari sejarah perjuangan Eyang Mula Haji Sunan Rohmatulloh, penyebar awal agama Islam di sana.

Dibanding Situs Naskah Kuno Ciburuy, Bayongbong atau Situs Candi Cangkuang, Leles, nama cagar budaya Mulakeudeu di Desa Sukalaksana, Kecamatan Sucinaraja, Kabupaten Garut, Jawa Barat, memang jarang terdengar.

Namun di tengah kesunyiannya, terdapat warisan cagar budaya Kubah Masjid dan Kebun Al-Qur'an Mulakdeudeu sejarah panjang mengenai penyebaran Islam, termasuk kondisi alamnya yang masih alami dan asri, sebagai kawasan wisata agro di kaki Gunung Monclot.   

Nandang Armawinata (35), salah satu tokoh muda sekaligus penggiat wisata agro sekaligus cagar budaya Mulakeudeu, mengatakan, keberadaan cagar budaya Kubah Masjid dan Taman Al-Qur'an, tidak lepas dari sejarah perjuangan Eyang Mula Haji Sunan Rohmatulloh, penyebar awal agama Islam di sana.

"Nama Mulakeudeu itu berasal dari bahasa Sunda buhun (Sunda dahulu) yang artinya Mula itu pertama, Keudeu itu kampung, atau Mulakeudeu itu berarti kampung pertama," ujar dia.

Alkisah, saat itu Eyang Haji mendapat tugas dari gurunya untuk menyebarkan agama Islam bagi mayoritas penduduk sekitar yang masih menyembah agama leluhur mereka. "Katanya Eyang Mula Haji Sunan Rohmatulloh itu termasuk 10 orang pertama yang menunaikan ibadah haji pertama dari pulau Jawa," kata dia, berdasarkan cerita turun-temurun dari leluhur warga sekitar.

Saat itu, dengan keberkahan ilmunya, banyak para santri dan warga sekitar yang menimba ilmu di kawasan itu, hingga menjadi cikal bakal penyebar agama di wilayah Garut. "Dulunya di sekitar sini, ada sebuah pesantren besar tempat menuntut ilmu para santri dan warga," kata dia sambil menunjukkan bekas pesantren cagar budaya itu.

Nandang menyatakan, ada satu amanat Eyang Haji yang sudah dikenal masyarakat di sini yang terpatri dalam sebuah batu. "Gusti ieu peci sing dijantenkeun ciri awal mula nyebarkeun agama Islam di Garut (Ya Alloh semoga peci ini menjadi pertanda awal mula penyebaran agama islam di Garut)," ujar dia.

Walhasil, sejak saat itu, muncul lah situs kubah masjid berupa tiang pancang batu setinggi 6 meter berdiri kokoh, sekaligus penanda cagar budaya seluas 6 hektare di sana. "Awalnya warga hanya menemukan batu itu setinggi satu meter, namun setelah digali ternyata sekitar 6 meter," kata dia.

Tidak hanya itu, terdapat luasan tanah sekitar satu hektare yang biasa dipanggil dengan sebutan Kebun Al-Qur'an oleh masyarakat sekitar. Konon lokasi itu, merupakan bekas bangunan pesantren ‘As-Salam’ yang dipimpin Eyang Mula Haji Sunan Rohmatulloh, untuk mengajar para santri dan warga sekitar dalam mempelajari agama Islam.

"Pada saat-saat tertentu terutama pukul setengah 2 malam, kerap terdengar banyakan orang yang sedang mengkaji Al-Qur'an, padahal itu sebuah gunung," ujar dia.

Saat ini, makam keramat Eyang Mula Haji Sunan Rohmatulloh, terjaga dengan baik di kawasan perbukitan Gunung Monclot yang diapit 2 gunung Gunung Linggaratu dan Gunung Siang. "Banyak tokoh nasional yang pernah berziarah ke sini, bahkan artis Charlie ST 12 pernah ke sini," kata dia.

Untuk menghidupkan asa budaya warisan Eyang Mula Haji Sunan Rohmatulloh, warga Kampung Mulakeudeu mulai menyelenggarakan festival tahunan ‘Ngawuwuh Festival’, dalam waktu tujuh terakhir. Tradisi itu merupakan hajat lembut Kampung Mulakeudeu, yang berisi istigasah akbar, makan bersama berupa tumpeng bareng, hingga tradisi minum Adang jahe secara berjemaah, sebuah kebiasaan yang dulu diajarkan Sunan Rohmatulloh.

"Baginda Rasulullah itu salah satu kebiasaannya minum jahe, yang berkhasiat mengandung banyak obat untuk tubuh," kata dia.

Nandang menambahkan, selain cagar budaya seluas 6 hektare bukti petilasan sekaligus peninggalan Eyang Mula Haji Sunan Rohmatulloh di sana, keindahan kawasan perbukitan di sekitar kampung Mulakeudeu, dinilai cocok untuk pengembangan wisata agro bagi warga.

"Dalam tiga tahun terakhir kami mulai mengembangkan kebun khusus dengan tanaman berkhasiat yang terdapat dalam Al-Qur'an," kata dia.

Sebut saja buah tin, zaitun, kurma, delima, pisang, plus anggur mulai dibudidayakan di kawasan wisata Agro Mulakeudeu. "Total sudah ada 2 hektare lahan yang kami kembangkan, silakan menikmati sajian wisata agro khas Mulakeudeu," ujar dia.

Sopiah, salah satu pengunjung liburan Idul Fitri 1443 H asal Garut Kota mengaku terkesan dengan suasana alami nan asri di kebun wisata agro Mulakedeu. Selain lokasinya yang jauh dari kebisingan kota, suasana damai dengan pemandangan alam yang indah menjadi daya tawar bagi pengunjung yang datang.

"Cuma memang perlu ada perbaikan infrastruktur jalan menuju ke sini untuk mempermudah wisatawan," ujar dia.

Tak mengherankan, meskipun terbilang baru, tetapi berwisata di alam terbuka kawasan wisata agro Mulakeudeu memberikan kesan positif bagi dia dan anggota rombongan lainnya. "Sebenarnya ingin berlama-lama di sini, namun sayang kondisi sudah menjelang petang," ujarnya.

Sumber: Liputan6.com

Editor: Admin

Berita SebelumnyaKopi Americano, Dari Tentara Italia sampai Drama…
Berita SelanjutnyaLetkol Inf Hamzah Beri Bonus Juara Cibatu…